| Sebel
! Lina memang keterlaluan, masa yang dia pikir cuma kepentingannya
sendiri. Mentang-mentang udah satu bus sama Kevin terus aku
dilupain begitu aja. Bayangkan, selama ini aku banyak berkhayal
tentang saat-saat indah bersama Ferdi di Bali, eh tahunya
si Lina bego itu mengacaukannya dengan sangat sempurna. Bukannya
berhasil satu bus sama Ferdi, aku malahan satu bus sama Tonny
yang usil itu. Wah, berantakan deh rencanaku !
Sejak Lina, ketua kelasku, gagal memenuhi permintaanku untuk
ditempatkan satu bus dengan Ferdi, aku jadi malas mikirin
liburan ke Bali nanti. Apa asyiknya piknik tanpa dekat sama
doi ? Ah, mestinya yang menentukan susunan bus jangan cuma
ketua kelas. Mestinya tiap anak bebas nentuin sendiri bus
pilihannya.
Jumat, 14 Juni 1996. Nanti siang aku akan berangkat ke Bali.
Meskipun temen-temen pada asyik nyiapin acara di sana, aku
sama sekali sudah nggak tertarik. Liburan yang sudah kutunggu
sejak awal Cawu 2 yang lalu kini tiba-tiba tampak begitu hampa
bagiku.
"Ken, ngapain ngelamun ? Hayo, ngebayangin Ferdi ya ?" sapa
Noni membuyarkan lamunanku.
"Sialan ! Bikin kagen saja kamu Non."
"Hey, kalau kamu terus pasang tampang kusut kayak gitu mana
mau si Ferdi ndeketin kamu. Mestinya kamu banyak pasang smile
yang manis biar tuh cowok pada lengket. Eh, denger-denger
Ferdi satu bus sama Ella, ya ?"
"Hah ?! Yang bener aja Non !"
"Serius ! Emang ngapain aku mesti bohong ?"
"Nggak pake nunggu dikomando lagi aku langsung ngacir ke papan
pengumuman. Dengan penuh rasa penasaran kubaca daftar nama
anggota bus IV, busnya Ferdi (eh kapan belinya ?). Ella Paramitha
! Aku langsung lemas membaca nama itu.
Ampun deh ! Si Ferdi mau ditaruh bareng siapa saja sebenarnya
nggak masalah buatku. Tapi Ella ... cewek centil itu bakalan
punya banyak kesempatan untuk ngerayu Ferdi, cowok idamanku
sejak kelas satu.
Ah seandainya Ferdi sudah resmi jadi pacarku. Seandainya aku
nggak usah punya saingan. Seandainya aku satu bus sama Ferdi.
Seandainya ... (soal berandai-andai aku nggak kalah dibanding
Oppie lho !)
Siang ini, persisnya pukul 12.15 aku udah stand by di sekolah.
Kuhabiskan waktuku dengan ngobrol santai sama Noni. Lumayan
buat ngelupain kedongkolan.
Ketika Ella datang dengan pakaian pink model "you
can see"-nya yang kekurangan bahan, beberapa cowok
langsung menghampirinya. Ih, norak ! Moga-moga aja Ferdi bukan
tipe cowok kayak gitu.
Nggak berbeda dari perkiraanku, keberangkatan bus kali ini
molor lagi seperti biasanya. Entah apa lagi alasan para guru
kali ini, tapi yang pasti kudengar bahwa pengaturan pembagian
konsumsi dan obat-obatan tiap bus masih kacau bin acak-acakan.
Heh, kalau pihak sekolah aja nggak bisa tepat waktu, apalagi
muridnya. Gitu kok tega-teganya main skors sama anak yang
telat masuk, nggak sportip tuh !
Bus baru berangkat ketika kepalaku udah mau meledak kepanasan.
Terik di siang bolong ini bener-bener menyiksaku. Untunglah
bus ini ber-AC, dalam beberapa menit kepalaku udah rada cool
kembali.
"Ken, mau permen ?" Noni mengulurkan sekaleng permen kepadaku.
"Buset ! Ngapain lu bawa permen sebanyak ini ?"
"Pernah baca kalo banyak makan permen bisa bikin face kita
tambah manis ?"
"Belum. Teori apaan tuh ?"
"Nggak tahu. Aku juga belum pernah baca."
Aku dan Noni tertawa. Kuambil lima permen dari kaleng Noni.
Buat persediaan, pikirku.
"Kamu yang bernama Niken, ya ?"
"Iya."
"Kenalan dong, saya Jefry."
Setengah kebingungan kusambut juga uluran tangan dari cowok
yang bernama Jefry itu. Heran, rasanya agak ganjil ngajak
kenalan di dalam bus pada tengah perjalanan begini. Tapi ...
peduli amat ! Setidaknya dia masih lebih sopan dari Tonny
cs yang rada brutal itu.
"Ehem ! Kenalan apa "kenalan" ?" goda Noni
yang duduk di samping kananku sambil tersenyum.
"Biarin ! Emang lu ngiri ?"
"Enggak. Kita udah kenal dari dulu ya Jef ?!" kata Noni melihat
ke arah Jefry.
Sialan ! Aku di-sekak mat lagi sama Noni.
Ternyata cowok yang berlabel Jefry itu enak juga diajak ngomong.
Dia punya banyak kesamaan dengan Ferdi. Sayangnya cuma satu,
tampangnya nggak memenuhi syarat. Jauh berbeda dibanding Ferdi
yang kereeen banget.
Ketika hari udah mulai gelap (abis dinner semrawut di Tuban),
aku melirik jam tanganku. Astaga, arlojiku mati ! Gawat nih,
berarti aku harus sering nanya sama Noni.
Sementara yang lain pada sibuk ngobrol, aku lebih memilih
untuk tidur di kursiku. Biar aja mereka bergadang semalaman,
besok pagi KO baru tahu rasa tuh !
Sabtu, 15 Juni 1996. Pukul 4.23 aku bangun (menurut jam tangannya
Noni). Ketika bus berhenti di pompa bensin, beberapa anak
cowok (Tonny cs) pada sikat gigi di belakang bus pake air
aqua. Amit-amit ! Dasar nggak tahu malu !
Aneka macam aroma sudah berpadu menjadi satu dalam bis. Empat
puluh tiga siswa dan tiga orang guru yang semuanya belum mandi
itu pada mengeluarkan bau-bauannya sendiri. Hasilnya, aku
langsung mabok !
Iseng-iseng aku turun dari bus yang sedang berhenti itu. Ternyata
banyak juga yang seide denganku. Langsung aku bergabung sama
Noni, Tika, dan Putri yang kayaknya sudah asyik ngegosip dari
tadi.
"Halo semua !"
"Selamat pagi, tukang tidur !"
"Lho ??"
"Iya tuh, kemarin ketika kita masih asyik ngobrol kamu udah
tidur duluan. Pagi ini kamu juga yang paling telat bangunnya.
Kayaknya matamu maunya merem terus ya ?"
Ucapan Noni segera disambut tawa oleh yang lain. Aku sih nggak
begitu peduli. Mataku mulai sibuk berkelana ke sekeliling.
Ah, di sana Lina lagi berdua sama Kevin. Lengket banget tuh
anak ! Aku melihat beberapa anak berkumpul di samping bus
empat. Astaga, si centil itu lagi gandengan sama Ferdi !
"Hey, ngapain pagi-pagi ngelamun ?" tanya Noni sambil mendekat
ke arahku.
"E-enggak apa-apa," sahutku agak gugup.
Noni diam sebentar. "Oh, karena itu ya ?!" tanyanya sambil
menunjuk ke arah Ferdi dan Ella.
Pertanyaan yang satu ini tidak kujawab. Heran, bisa-bisanya
anak ini menebak pikiranku.
"Niken, santai aja deh ! Cowok nggak cuman satu doang kok
! Kalau memang suka, Ferdi pasti akan kembali pada kamu. Hukumnya
kan cowok yang pendekatan ke cewek. Jangan dibalik dong !"
"Yah, sesukamu lah !" aku menjawab lirih.
Dengan langkah gontai aku berjalan kembali ke bus tiga (bus-ku).
Hilang sudah seleraku untuk ikut bergembira.
"Lho, kok langsung balik. Ngapain Ken ?" Putri memanggilku
dengan gaya khasnya.
"Ssst ! Jangan diganggu ! Niken lagi frustasi !" Noni menukas
sekenanya.
Aku cuek aja. Pokoknya balik ke bis terus bobok lagi, titik
!
Belum puas aku tidur, tahu-tahu udah ada gangguan lagi. Semua
anak diminta turun dari bis dan menuju lantai dua dari kapal
JL Ferry yang kunaiki. Segera saja kusambar kamera setiaku
sebelum turun.
Wih ! Ternyata pemandangan laut saat matahari terbit bagus
juga ya ? Setelah membidik dua buah gambar sunrise dari lantai
dua, aku terus naik ke lantai tiga.
Baru beberapa langkah berjalan di lantai tiga, mataku menangkap
pemandangan yang tak kuharapkan lagi. Huh ! Kayaknya Ella
bener-bener memanfaatkan kesempatan yang diperolehnya kali
ini dengan baik. Dia sama sekali nggak mau lepas jauh-jauh
dari Ferdi.
Daripada ngeliatin keakraban mereka terus-terusan, aku langsung
aja balik turun ke lantai dua.
Bruk !
Tak sengaja aku menabrak seseorang.
"Oh, sori, aku nggak sengaja !"
"Sudahlah, nggak masalah !"
Astaga, barusan aku menabrak Jefry ! Duh, malu banget rasanya.
"Abis dari atas ?"
"Iya tuh."
"Aku baru mau naik. Ikut nggak ? Di lantai dua nggak rame
!"
Kalo dipikir pake akal sehat mestinya aku menolak ajakan itu.
Tapi entah kenapa, kali ini aku justru menanggapi ucapan Jefry.
Barengan kami naik lagi ke atas. Yah, kuakui dalam hati kecilku
ada sedikit niat balas dendam. Biar Ferdi tahu kalo bukan
cuma dia yang bisa cari gandengan. Aku jahat ya ??!?
Ketika melewati Ferdi dan Ella, aku sengaja merapatkan diri
ke arah Jefry. Aku yakin pasti si Jefry cukup kebingungan
kerena tingkahku. Biarin !
Turun dari kapal ferry, rombongan sekolahku segera rnenuju
ke tempat wisata Tanah Lot, sasaran pertama kami. Berbagai
lagu gembira mulai diputar di dalam bus.
Tujuan telah tiba. Kami segera turun dan ... aku benar-benar
takjub akan keindahan pantai ini ! Jelas pantai Tanjung Emas
di Semarang nggak bisa dibandingkan dengan pantai ini (emangnya
lomba ?!).
Noni mengajakku untuk bergabung bareng para cowok. Lebih seru,
katanya. Aku sih ngikut aja. Netral nih !
Setelah mengambil beberapa pose bersama di depan kamera, kami
segera balik ke bus. Habis sudah dipanggil sih. Acara fato-fotonya
cukup rame lho, Putri, Nia, Lina, dan Kevin ikutan bergabung
nampang bareng.
Sudah capek dari Tanah Lot sebenernya aku maunya langsung
ke hotel trus mandi. Kalo diitung-itung, saat ini aku dan
teman-teman sudah lebih dari 24 jam nggak mandi. Bayangin
deh rasanya ! Tampangku pasti udah jadi kusut dan acak-acakan.
Ternyata apa yang kuharapkan jauh dari kenyataan. Bukannya
ke hotel, rombongan kami rnalah mangkal di depan warung makan
eh rumah makan . Bukan mau nyombong nih ! Dari semula aku
emang udah siap rnental bahwa makanan selama wisata ini pasti
seadanya (maklum, paket wisata murah), tapi yang kujumpai
di sini bener-bener di bawah standar ! Udah makanannya gak
dikasih bumbu, piringnya nggak dicuci, ternpatnya pun amburadul
plus kotornya bukan main ! Jadinya, jangan heran kalo temen-temen
dan aku pada ngomel semua. Secara singkat dapat kuutarakan
bahwa acara rnakan kali ini nggak layak, begitulah !
Untunglah seusai makan rombongan segera menuju ke hotel. Kalo
enggak bisa-bisa aku demonstrasi. Heran, para cowok itu kok
nggak ada yang berani buka suara untuk protes.
Hotelnya lumayan lho ! Lebih baik dari dugaanku semula setelah
makan siang. Begitu sampai di kamar, aku langsung aja mandi.
Segarrr ! Nah, kalau sudah begini acara ke manapun aku udah
ready Iagi.
Abis mandi, kusempatkan diriku untuk mengambil beberapa foto
di seputar hotel (biasa, buat dokumentasi pribadi). Setelah
lima temen sekamarku se lesai mandi semua, kami berenam kembali
ke bis bareng-bareng untuk selanjutnya meluncur ke Joger,
pusat T-shirt dan cenderamata yang semuanya dibubuhi kata-kata
mutiara ala mereka sendiri yang menurutku agak "silly".
Kuakui, desainer pabrik kata-kata ini bener-bener memiliki
rasa humor yang tinggi. Sayang, harga barangnya mahal nggak
karuan ! Nguras isi dompet aja.
Lepas dari Joger, aku terus ke pantai Kuta jalan kaki bareng
Noni, Lina, Putri, Kevin, dan Jefry. Karena bareng-bareng,
jarak ke pantai yang mestinya cukup jauh itu jadi nggak terlalu
terasa.
Acara selanjutnya adalah makan. Aku terus berharap semoga
kali ini kualitas makanan dan kebersihannya lebih baik.
Pucuk dicinta ulam nggak mau tiba. Tragedi siang tadi terulang
lagi. Yah, kayaknya selama beberapa hari ini aku rnesti siap
nahan lapar dikit. Itung-itung nyuksesin program diet.
Ketika rombongan sampai ke hotel, hari udah mulai gelap. Gak
peduli airnya dingin, aku nekad mandi lagi biar seger.
"Ken, main ular tangga yuk !" ajak Putri.
"Hmm, okelah !"
"Ken, aku sama Tika mau ngobrol-ngobrol sama kelompok cowok.
Ikutan nggak ?" tiba-tiba Noni menepuk pundakku.
"Lho, tadi kan katanya di lantai satu ada pertunjukan tari.
Pak Sapto menyuruh kita turun lho !" Nia yang baru saja selesai
rnandi menimpali.
"Cuek cuek amat. Kalo para guru mau liat tarian ya liat aja
sendiri. Kenapa musti pake ngajak kita-kita segala ? Gimana
Ken, jadi ikut ?"
"Sori Non, aku rada capek. Aku di sini saja sama Putri."
Keputusan sudah diambil. Kami sekamar terbagi menjadi tiga
kelompok. Aku dan Putri main ular tangga di kamar. Noni dan
Tika nggabung sama para cowok. Nia sama Nova nonton tari.
Minggu, 16 Juni 1996. Pagi-pagi aku bangun (nggak sempet liat
jam). Nia, Nova, sama Tika udah nggak di kamar. Pasti anak-anak
yang beragama Katolik udah pada berangkat ke gereja, pikirku.
"Pagi, Non !"
"Pagi juga !" jawab Noni yang abis keluar dari kamar mandi.
"Nah, sekarang giliranku mandi." Putri yang sedari tadi udah
bawa-bawa handuk langsung rnasuk.
"Niken ..."
"Apa, Non ?"
"Enggg, ada satu kabar yang harus kamu ketahui, tapi ..."
"Tapi apa ?" tukasku tak sabar.
"Ssst ! Jangan keras-keras ! Nanti kedengaran Putri."
"Uh, rahasia ya ?" |
"Ini
tentang Ferdi."
Aku yang tadinya santai langsung jadi serius begitu mendengar
nama yang satu ini.
"Ferdi kenapa ?"
Noni terdiam sesaat. Hal ini membuatku lebih penasaran lagi.
"Kemaren malam kan aku bergabung ama kelompoknya cowok. Kita
ngobrol-ngobrol sampe agak malem."
"Trus ...??"
"Terus tadi malam aku dapat kabar."
"Kabar apa ?" Aku memburu penuh selidik.
"Si Ferdi sama Ella ... Mereka udah jadian."
"Hah ?!? Sejak kapan ? Kenapa nggak ada yang tahu ? Kenapa
bisa begitu ?"
"M-mereka udah jadian seminggu sebelum kita berangkat liburan
ke sini. Makanya sejak kemaren mereka berdua lengket terus."
Seluruh badanku menjadi lemas seketika. Seandainya yang menyampaikan
berita ini bukan Noni, sedikitpun aku nggak bakalan percaya.
Tapi ...
"Ken, nggak usah terlalu bersedih. Kalau saja aku tahu sebelumnya,
aku pasti akan memberitahukanmu."
Kalau saja saat ini aku lagi sendirian di kamar rumahku, aku
pasti akan menjerit sekeras-kerasnya. Lenyaplah sudah semua
angan dan harapanku selama ini. Mengapa aku begitu tolol mengharapkan
sesuatu yang tak mungkin dapat kuraih ?
"Halo Noni, udah rapi ya ?!" Jefry dan Thomas tahu-tahu sudah
berada di depan pintu yang memang agak terbuka sedikit.
"Hey, tahu nggak, anak cowok nggak boleh kemari ! Sana keluar
!"
"Idih sewot. Perempuan nggak boleh galak kayak gitu. Kalo
nggak percaya tanya aja ama Niken. Betul ya, Ken ?!"
Aku tidak memberi jawaban. Kulihat Noni memberi isyarat pada
Jefry untuk tidak menggangguku. Kedua cowok tadi segera keluar
dengan diikuti oleh Noni. Karena Putri sudah selesai, aku
langsung aja nyiapin peralatan mandi.
Acara tour di Galuh dan Sukowati sama sekali tak bisa kunikmati.
Aku cuma beli beberapa kaos limaribu-an buat oleh-oleh mami
dan adik-adik. Sambil memilih, pikiranku masih terus melayang-layang
entah ke mana.
Tanpa bicara sepatah katapun, aku hanya duduk diam di kursiku.
Bus sudah mulai berjalan menuju ke Pura Besakih, sementara
Noni pindah ke tempat duduk kosong di belakang untuk ikut
guyonan bareng Tonny dan konco-konconya.
"Kamu sakit ? Kok dari tadi pagi diem aja." Jefry rnenghampiriku.
"Enggak apa-apa kok."
"Kemaren kamu nggak begini. Kalo emang nggak ada apa-apa ikutan
happy happy sama kita dong !"
"Sori Jef, aku lagi nggak pengin."
"Hmm, ada masalah ya ?! Aku boleh tahu nggak ? Siapa tahu
aku bisa bantu."
Kutatap mata Jefry. Kulihat ada kesungguhan di dalamnya.
"Aku nemang lagi ada problem. Kalo kamu mau tahu aku nggak
keberatan selama kamu janji bisa pegang rahasia. Tapi, kurasa
kamu tetap tak akan bisa membantu."
"Yah, setidaknya bercerita pada orang lain kan sedikit banyak
bisa me ngurangi beban pikiranmu. Bukankah itu sudah merupakan
satu bentuk bantuan ? O iya, boleh aku duduk ?"
"Duduk aja, nggak ada yang ngelarang kok !"
Jefry duduk menyebelahi aku. "Nah, sekarang kamu bisa mulai
cerita."
Secara ringkas kuceritakan tentang "perasaan khusus"-ku
pada Ferdi. Lalu tentang berita yang kudengar dari Noni tadi
pagi. Tidak semuanya aku ceritakan. Tentu saja ada beberapa
bagian yang kusensor. Bagaimanapun aku belum mengenal Jefry
cukup lama untuk bisa mempercayainya seratus persen. Hanyalah
karena ia kelihatan serius ingin membantu, maka aku bercerita
kepadanya.
Sepanjang perjalanan aku dan Jefry saling bertukar pikiran.
Heran, kayaknya Jefry jauh lebih dewasa daripada penampilannya
yang terkesan sekenanya itu.
Besakih sudah dekat. Kita disuruh nerusin perjalanan dengan
jalan kaki karena bus sudah tidak diizinkan masuk lebih dekat
lagi.Aku yang kini mulai agak happy kembali segera
mengambil kamera, lalu turun.
Ternyata jalan ke Besakih masih lebih jauh dari yang kubayangkan,
apa lagi kalo jalan kaki. Tapi nggak jadi soal karena Jefry
masih betah nemenin aku. Sambil jalan, dia banyak cerita yang
lucu-lucu sehingga aku tertawa juga.
"Niken ! Hayo lagi ngapain ya ?!" suara Noni terdengar dari
belakang.
Aku menoleh. Ya, emang Noni yang bicara. Dia lagi bareng-bareng
sama Tika, Tonny, Kevin, dan Donny.
"Kev, ingat Kev, ini kita mau ke pura. Jangan berpikiran yang
macam macam !" Jefry tersenyum kecil.
Aku dan Jefry ikut bergabung dalam kelompok mereka. Selanjutnya
kita jalan bareng-bareng. Lebih rame dan heboh ! Sampe-sampe
kita diliatin beberapa penjual aqua di tepi jalan.
"Waaah Ken, baru beberapa jam udah dapet ganti nih ?!" bisik
Noni.
"Hussh ! Ngawur !"
"Alaa, masak sama aku kamu nggak rnau ngaku. Si Jefry keren
juga kan?"
"Non, klta tadi cuma ... "
"Melakukan pendekatan !" tukas Noni cepat.
"Hey, jangan keras-keras ! Nanti orangnya denger."
"Oke deh ! Kamu boleh aja pura-pura tidak suka. Nanti lama-lama
kan ketahuan sendiri."
Aku cuma geleng-geleng kepala mendengar kicauan Noni yang
nggak karuan arahnya itu.
Pura Besakih yang terkenal itu ternyata memang sehebat namanya.
Begitu kagumnya aku sampai-pampai delapan gambar kujepret
dengan kameraku. Selanjutnya, kisah kunjungan ke danau Batur
juga nggak jauh berbeda.
Sama semrawutnya, sama ramenya, sama hebohnya. Hehehe, anak
muda sih.
Karena perut udah main orkes aementara tour yang nggak beres
ini belum juga nyediain makan, maka acara menikmati panorama
danau berubah jadi makan siang. Singkatnya, sore itu para
penjaja mie bakso di Kintamani panen besar.
Mestinya hari ini kita masih harus ke Istana Presiden Tampak
Siring. Tapi dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan,
pihak tour membatalkannya tanpa memberi ganti rugi. Buset,
mestinya kekacauan tour ini dalam mengatur waktu harus dipublikasikan
di koran-koran. Biar tahu rasa !
Bagaimanapun, segala kekesalanku terhadap penyelenggara wisata
ini akhirnya sirna oleh pesona tari Barong yang kusaksikan
pada malam harinya di Batu Bulan. Sayang, film kameraku udah
abis. Jadi aku nggak bisa ikutan main potret.
Usai nonton Barong aku bener-bener udah capek. Makanya begitu
kembali ke bus aku langsung tidur. Ketika bangun, tahu-tahu
bus sudah parkir di halaman hotel. Yah, tidur sebentar lumayan
lah !
Malam ini berbeda dengan malam sebelumnya, Kali ini aku ikut
bersama Noni dan Tika untuk ngobrol bersama sampai malam dengan
teman-teman yang lain, termasuk Jefry. Wih, kayaknya si kalem
yang satu ini mulai menarik perhatianku.
Suasana ngobrol malam ini bener-bener ceria. Ketika aku sempat
ngeliat jam, jarum arlojinya Noni yang berwarna biru itu baru
menunjuk pukul setengah sepuluh.
"Jef, sampe hari ini kamu udah abis duit berapa ?" Noni bertanya.
"Tauk ya, mungkin sekitar lima puluh. Aku nggak banyak beli
barang sih !"
"Aduh, aku udah abis sekitar seratus sepuluh ! Waah, berarti
harus segera diadakan program penghematan nih !"
"Kalo kamu abis berapa Ken ?"
"Delapan puluh tiga tibu enam ratus lima puluh," jawabku pasti.
"Buset, teliti amat ! Emangnya kamu mencatat semua pengeluaranmu
?"
"Jelas dong ! Calon akuntan harus begitu !"
Jefry dan Noni tertawa.
Acara dilanjut dengan main kartu. Kevin sih rnaunya poker.
Tapi karena yang cewek pada nggak bisa, maka disepakati main
empat-satu. Trus, karena pesertanya kebanyakan, dua belas
anak yang hadir dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan
jumlah set kartu yang ada.
Jefry terang aja bergabung sama kelompok cowok. Sementara
itu aku, Noni, Tika, dan Vera main kartu sendiri dalam satu
kelompok. Dan, seperti biasa, yang namanya cewek tiap ngumpul
pasti ngerumpi. Habis suka sih !
"Ken, sepertinya si Jefry itu ada rasa sama kamu lho ! " Vera
membuka percakapan.
"Tuh kan ! Apa kubilang ?" Noni menimpali.
"Padahal mereka barusan kenalan di bus dua hari yang lalu
lho ! Sekarang langsung jadi akrab. Kayaknya si Niken juga
suka. Iya nggak Ken ?" Suara Sisca yang lagi pilek itu kedengaran
lucu sekali.
Aku cuma senyum-senyum saja mendapat serangan bertubi-tubi
dari tiga makhluk di dekatku ini.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir omongan Tika tadi bener juga
lho ! Selama ini meskipun sama-sama di kelas dua, aku belum
saling kenal sama Jefry. Maklum, aku memang bukan tipe orang
yang punya banyak kenalan cowok seperti Voni dan Tika.
"Hey, jangan ngelamun Ken ! Itu kartunya mau diambil nggak
?"
Main kartu ternyata nggak begitu asyik. Setelah satu game,
kami kembali ngobrol seperti semula. Dan ... Jefry langsung
ngedeketin aku lagi (bukan nya ge-er nich !).
"Hey, Jef, Ken, kalian duduknya kurang deket tuh !" Noni memancing.
"Ah, enggak ya Ken ?" jawab Jefry kalem.
"Alaa, nggak usah malu-malu deh ! Kita udah tahu kok !"
"Enak aja ! Tahu apaan ?" sergahku.
"Tahu ini nih !" jawab Noni lagi sambil membentuk simbol hati
dengan jarinya.
Mukaku langsung bersemu merah rnendengar jawaban Noni. Kukira
Noni pun tidak menduga kalau gurauannya ditanggapi Jefry dengan
serius. Maka yang terjadi selanjutnya sungguh di luar perkiraanku.
Di hadapan Noni dan kawan-kawan lainnya, Jefry berterus terang
kalo dia suka sama aku. Dan, hebatnya lagi ... aku menerimanya
!
Kalo sudah begini jangan nanya sebabnya deh, emang cinta itu
buta ! Banyak orang nekad berbuat yang aneh-aneh demi cinta.
Nampaknya sekarang hal ini terjadi padaku.
Noni, Tika, dan Vera spontan mengucapkan selamat padaku. Trus
Santi , Ida, dan beberapa orang lainnya kebagian giliran berikutnya.
Kulihat para cowok itu juga langsung ngucapin selamat sama
Jefry. Kami bener-bener menjadi pusat perhatian malam ini.
Yah, malam yang mengesankan ini telah rnengakhiri segala keraguanku
tentang Jefry. Proses pendekatan yang kami alami memang terhitung
amat singkat. Tapi entah mengapa, sejak tadi siang aku selalu
merasakan suatu perasaan yang tidak dapat kukatakan tiap kali
memandangnya. Nada-nada cinta yang ia bawa seakan membuai
diriku hingga terbang tinggi di angkasa.
Senin, 17 Juni 1996. Pagi ini Putri langsung ngucapin selamat
padaku. Emang kemaren dia nggak ikut rame-rame di serambi
kamar cowok.
Hari ini adalah hari terakhirku di pulau Bali. Selamanya,
pulau ini akan tetap penuh kenangan bagiku. Menurut.rencana,
hari ini rombongan akan menuju ke Sangeh, Bedugul, terus pulang.
Perjalanan mengunjungi "saudara tua" di Sangeh benar-benar
menyenangkan. Sejak tadi sudah enam kali aku mendapat tawaran
permen, roti, dan aneka makanan lain dari deret belakang.
Si Noni yang always happy itu rnengkoordinir seluruh
anggota bus tiga untuk nyanyi bareng. Pokoknya seru deh
"Perhatian, kita sudah tiba di Sangeh. Harap kalung, gelang,
dan aneka perhiasan lain yang dapat menarik perhatian kera
dilepas dulu !" Tour Guide yang sejak tadi ngomong terus itu
memberi pengurnuman.
Di Sangeh, aku dan Jefry berfoto bersama (dengan seekor kera
yang bertengger di pundak kiri Jefry). Lalu Jefry juga mengajariku
cara memberikan kacang pada kera (tadinya aku takut). Pokoknya
si Jefry itu baiiiik banget !
Ketika kembali ke bus, entah mengapa tiba-tiba aku merasa
pusing dan ngantuk berat. Emang tadi malam aku kurang tidur,
siapa sih yang bisa tidur nyenyak setelah baru aja dapet pacar
?
Sementara yang lain pada turun di Bedugul, aku sih tinggal
diem aja di bus. Mendingan tidur daripada sekarang dipaksain
lalu nanti jatuh sakit. Bisa-bisa entar di rumah mami yang
jadi repot.
Sebelum pulang, acara makan siang diadain di dalam bus (pake
makanan dalam kotak. Jefry sama Cahyo kembali ke bis di urutan
paling akhir (untung nggak ditinggal). Rupa-rupanya mereka
abis main para-settling atau ... apa lah namanya. Aku sendiri
juga nggak begitu jelas kok.
Noni yang memang berambut agak coklat itu nggak capek-capeknya
ngomel di sebelahku. Tadi di Bedugul ada seseorang yang mengajaknya
bicara pake bahasa Inggeris. Dikira turis bule barangkali.
Lama-kelamaan rupanya si Noni bisa juga kehabisan bahan pembicaraan.Ia
maju ke depan untuk menyetel kaset lagu-lagu santai yang dibawanya.
Biar semua bisa dengar, katanya.
Sementara kursi di sebelahku kosong, pikiranku kembali terbawa
pada peristiwa tadi malam. Lagi asik-asiknya melamun, sayup-sayup
kudengar alunan suaranya Maribeth dari kasetnya Noni.
Denpasar Moon,
shining on an empty street ...
I return, to the place we used to meet ...
Semarang, 30 Juni 1996
Based on my Trip to Bali
Robert
Setiadi
|