| “Pagi”
sapaan yang sangat manis tiba-tiba terdengar saat aku melangkah
keluar dari rumahku.
Rumah? Ah, tidak pantas disebut rumah, kurasa. Tempat aku
tinggal adalah sebuah bangunan tua di lorong kumuh kota. Sama
sekali jauh dari harapan, tapi bagaimanapun aku cukup bangga
bisa membeli rumah ini dengan harga sangat murah dari seorang
pensiunan tentara yang kalah judi. Aku dulu memang sempat
punya sedikit tabungan yang kusisihkan dari upah bekerja di
toko roti.
“N-nona Yamamoto?”
“Selamat pagi.”
“A-a…”
“Berangkat ke gudang?”
“I-iya”
“Kita ke sana bersama-sama. Saya juga mau ke sana.”
“N-nona, rasanya tidak pantas kalau …”
Iori tertawa kecil.
“Kenapa tertawa, nona?”
“Kamu lucu, kemarin kamu mengajak saya berkenalan di depan
gedung musik dengan sopan dan lembut. Tapi hari ini kamu gugup
sekali.”
“S-saya..”
“Ke mana perginya young gentleman yang saya lihat kemarin?”
Iori masih tersenyum.
“Maaf, nona. Kemarin saya tidak tahu kalau…”
“Kalau saya putri pemilik gudang?”
“B-betul, nona. Ma-maafkan kelancangan saya…”
Tiba-tiba wajah Iori menjadi sedikit lebih serius.
“Tidak bolehkah saya punya teman?” Iori tampak sedih.
Aku tak berani menjawab.
“Tahukah kamu, Douglas, saya baru datang ke sini beberapa
bulan yang lalu. Papa memaksa saya dan mama ikut pindah ke
Inggris agar papa bisa menjalankan usaha dengan lebih baik.”
“Oh, maaf, saya memanggil kamu Douglas. Betul namamu Douglas
kan? Atau lebih baik saya memanggil nama keluarga?”
“N-nama keluarga saya Brown, tapi silakan panggil saya Douglas.”
“Hahaha, orang Inggris memang aneh. Kalian memanggil nama
depan bahkan kepada orang yang belum lama dikenal. Saya sempat
bingung ketika pertama tiba di sini, banyak sekali kebiasaan
yang berbeda. Untung papa banyak membantu saya menyesuaikan
diri.”
Aku tersenyum kecil.
“Nah, jadi kita teman ya. Saya belum punya teman laki-laki
sebaya sejak pindah ke sini.”
“Senang sekali bisa dianggap teman oleh nona.”
“O iya, kalau sedang tidak ada orang lain, panggil saya Iori
saja. Lebih enak daripada mendengar panggilan nona melulu.”
“T-tapi, mana boleh begitu?”
“Hei, di negeri asalku, tidak mungkin seorang wanita mengijinkan
teman baru memanggil nama depan. Tapi … kurasa aku sudah cukup
terbiasa dengan budaya kalian yang sedikit berbeda di sini,
jadi tidak ada masalah.”
Aku masih setengah tidak percaya apa yang terjadi.
“B-baiklah, nona Iori.”
“Hahaha, sudah lebih baik. Tapi jangan pakai kata nona. Iori-san
saja.”
“San?”
“Hmm, bagaimana menjelaskannya? Panggilan terhadap nama seseorang
biasanya diikuti kata ‘san’ untuk teman. Ah, tapi kita tidak
akan menghabiskan berjam-jam di sini untuk membahas panggilan
nama kan?”
Aku tersenyum, mengangguk.
“Ayo, sudah siang sekarang. Kita berangkat.”
^ ^ ^ * * * ^ ^ ^
Aku tersentak dari lamunan masa laluku. Lucu
juga, sampai sekarang aku tak berhasil mengingat secara lengkap
isi pembicaraanku dengan Iori pada hari itu. Yang kuingat
hanya wajah-wajah penuh keheranan dari para pekerja gudang
saat melihat aku dan Iori datang bersama pagi itu.
Aku tak pernah mengerti perasaan apa yang kurasakan terhadap
Iori. Cinta? I keep believing that it is not love. Yang jelas,
hanya dalam beberapa kali bertemu aku merasa telah lama sekali
mengenalnya, aku mengagumi kepribadiannya yang cerdas dan
keinginannya yang kuat dalam hidup. Entah bagaimana kami menjadi
dekat dan akrab dalam waktu yang singkat.
Ach, seandainya aku punya sebuah kesempatan untuk mengulang
kembali hari-hari itu.
Byurrr !!!
Sebuah mobil truk melintas di depanku dengan kecepatan tinggi.
Air di kubangan pinggir jalan membasahi sekujur tubuh renta
ini.
Bahkan jas yang basah kuyub ini tak kurasakan sebagai gangguan.
Rasanya aku kenal logo di truk itu !
Gambar merpati berwarna putih dalam lingkaran merah, logo
perusahaan ayah Iori yang kini telah menjadi salah satu dari
sekian banyak perusahaan milikku. Bisa saja aku menelepon
asistenku dan meminta sopir truk tadi dipecat seketika. Entah
kenapa kali ini aku tidak berminat melakukannya.
^ ^ ^ * * * ^ ^ ^
“Kenapa lama sekali?”
“Maaf, tadi pak mandor memberiku tugas tambahan.”
“Wah, bukannya jam kerjamu sudah selesai?”
“Yah, memang beginilah nasib pekerja” aku meringis kecil.
“Ke mana kita hari ini?”
“Sesukamu. Bagaimana kalau ke taman merpati?”
“Eeeh, ke sana lagi?”
“Atau kamu mau ke tempat lain?”
“Ke sana juga boleh.”
“Ayo.”
Iori mengikuti langkahku.
“Douglas…”
“Ya?”
“Kenapa kamu suka sekali ke taman merpati?”
“Hmmm, entahlah. Aku suka taman itu. Bahkan istilah "taman
merpati" sebetulnya cuma buatanku. Aku suka memberi makan
merpati dan melihat mereka terbang bebas. Mereka adalah makhluk
beruntung yang tidak dilahirkan dengan berbagai beban berat
dunia manusia. Kadang kurasa aku iri dengan kebebasan mereka.”
|
“Aku
lebih suka melihat bunga.”
“Bunga?”
“Iya. Di taman itu banyak bunga yang cantik. Sayang sekali
di sini tidak tumbuh bunga sakura.”
“Bunga sakura?”
“Cantik sekali. Di tempat tinggalku dulu, kami mengadakan
pesta bunga sakura setiap awal musim semi. Seluruh kota berhias
diri dengan bunga. Ada pesta kembang api dan aneka acara.”
“Kelihatannya menyenangkan sekali.”
“Douglas, kamu pernah melihat bunga sakura?”
“Belum.”
“Aku akan membawakannya untukmu saat pulang ke Jepang nanti.”
“Pulang? Kamu akan pulang ke Jepang?”
“Hehehe, kenapa? Apa kamu akan merindukanku?”
“A-aku…”
“Sudah, sudah, aku cuma bercanda. Entah kapan aku bisa pulang
lagi ke Jepang.”
Aku menarik nafas lega.
Iori tertawa kecil melihatku.
“Kenapa tertawa?”
“Hahahaha, tidak tidak.” Iori berjalan menghindar.
“Ayo katakan, apa ada yang salah di mukaku?”
“Tidak ada apa-apa, kan tadi sudah kubilang?”
“Lalu kenapa tertawa?”
“Apakah orang senang tidak boleh tertawa?”
Kami menikmati sore itu dengan penuh tawa, berkejaran dan
memberi makan merpati.
“Ini kue waffle-mu,” aku menyodorkan kue ke Iori.
Iori mengulurkan tangannya, ia tampak sedikit terdiam.
“Douglas…”
“Kenapa?”
“Apakah jika suatu hari nanti aku benar-benar pulang ke Jepang,
kamu akan merindukan aku?”
“A-aku…” aku terdiam sejenak. “Tentu saja aku akan merindukanmu.”
“O ya? Seperti kamu merindukan Emily sekarang?”
Aku tidak bisa menjawabnya.
“Douglas, selama ini kamu menganggap aku sebagai apa?”
“K-kamu adalah teman yang terbaik untukku, Iori. Aku tidak
punya apa-apa, orangtuaku meninggalkan aku di panti asuhan
sejak bayi, tempat tinggalku cuma rumah kecil yang tidak berisi
apa-apa, aku cuma pekerja kasar di salah satu gudang milik
ayahmu. Tapi kamu mau berteman denganku. Kamu membuat aku
mendapatkan kembali semangat untuk hidup dan berjuang.”
“Hanya teman, Douglas?”
Aku tercekat mendengar pertanyaan Iori yang terakhir. Cukup
lama aku tidak berani menjawabnya.
“A-aku.. keadaan kita jauh berbeda, Iori-san”
“Keadaan? Apa kamu cuma memandang semuanya dari uang?”
“B-bukan cuma itu. Lihat, Iori-san, kamu seorang dari keluarga
terpandang di Jepang, negara yang bahkan aku belum pernah
tahu keadaan di sana. Kamu punya orangtua yang menyayang dan
memperhatikanmu. Aku seorang Inggris yatim piatu. Bekerja
setengah mati cuma untuk bertahan hidup. Bagaimana aku bisa
mengharapkan sesuatu yang lebih dari semua kebaikanmu?”
“Kita sudah melalui banyak hal bersama, Douglas. Saat kita
pertama berteman bahkan banyak yang membuat gosip dan segala
gunjingan buruk tentang kita. Masih ingat saat papaku memanggilmu
setelah mendengar berita itu?”
“I-iya. Aku tidak akan lupa kejadian itu. Semula kupikir ayahmu
adalah seorang yang menakutkan, ternyata ayahmu cukup bijaksana
untuk mendengar semuanya tidak hanya dari satu pihak.”
Iori tersenyum.
“Kalau saat itu kamu tidak berhasil meyakinkan papaku, hari
ini kita tidak mungkin bisa duduk di sini bersama”
Aku mengiyakan perkataan Iori.
“Douglas…” Iori terlihat sulit melanjutkan kata-katanya. “Suatu
hari aku akan pulang. Ayah tidak selamanya mengurus bisnis
di sini. Ada saatnya kami sekeluarga akan pulang. Mungkin
saat itu keluargaku akan bertemu kembali dengan calon suamiku
dan membahas rencana pernikahan.”
“Calon suami?” aku berusaha meyakinkan diriku akan kalimat
yang baru saja kudengar.
Iori tertunduk. “Aku sudah punya calon suami, Doug. Seperti
kamu sudah punya Emily.”
Dengan cepat aku menguasai diriku kembali. Ya, wajar saja
Iori sudah memiliki calon suami. Lagipula, memang aku tidak
selayaknya kecewa. Aku juga punya Emily yang setia menungguku
di Colchester.
“Douglas, pejamkan matamu.”
“Hah? Kenapa?”
Iori memberiku isyarat untuk tidak melanjutkan perkataanku.
Aku menurut.
Sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirku, aku terkejut
dan membuka mataku. I’ve been kissed by an angel !
Hati-hati kuraih tubuh mungil itu, kurapatkan tubuhku dan
membalas ciumannya, dan tanpa kusadari aku telah terhanyut
dalam derai ombak perasaan yang tidak semestinya ada.
^ ^ ^ * * * ^ ^ ^
Hembusan angin dingin kembali membuat tulang-tulang
tua ini merasa tidak nyaman. Hingga saat ini aku tak pernah
tahu apakah hari itu aku telah membuat keputusan yang salah.
Entah apa yang akan dikatakan Emily jika dia mengetahui kejadian
hari itu.
Apakah aku mencintai Emily? Aku selalu berpikir bahwa aku
mencintainya. Dan memang dialah yang akhirnya kunikahi sebagai
isteriku, mendampingiku dalam menjalani puluhan tahun hidup
ini, sebelum pergi mendahuluiku setahun yang lalu, menghembuskan
nafasnya yang terakhir di pelukanku.
Lalu disebut apakah perasaan yang kumiliki terhadap Iori?
<bersambung>
Melbourne, 27 Maret 2005
Inspired by Time and Distance
Robert
Setiadi
|